Panas Setahun Dihapus Oleh Hujan Sehari

1504951_577020315729401_997866091040310499_n

Pasti kita sudah mengenal peribahasa ini. Secara istilah peribahasa “panas setahun dihapus oleh hujan sehari” bermakna kebaikan yang telah banyak dilakukan dihapuskan oleh kejahatan yang sedikit. Atau kebaikan-kebaikan yang panjang/lama dihapus dengan kejelekan yang pendek/singkat.

Saya jadi ingat peribahasa ini ketika mendengar banyak cerita di balik Pemilu 2014. Beberapa teman caleg dari berbagai partai banyak cerita, bahwa tempat-tempat dimana diprediksi akan memperoleh banyak suara tiba-tiba jadi menguap. Padahal dia telah melakukan komunikasi, advokasi, pembinaan bahkan bantuan materi ke masyarakat maupun kelompok-kelompok disana selama lima tahun. Namun karena tidak memberikan amplop di detik-detik pencoblosan, harapan itu sirna. Selidik punya selidik, karena disana ada “serangan fajar.” Caleg lain, yang bahkan tidak pernah kedaerah itu, apalagi memberikan advokasi, mendapat suara yang fantastis di TPS itu.

Ditempat tertentu bahkan, tokoh masyarakat atau ketua RT disana meminta sesuatu sebagai “tanda minta dukungan” kepada caleg yang sudah mereka kenal. Kalau tidak diberi, mereka akan mengalihkan dukungan ke siapa saja yang bisa memberi amplop.

Jadi, meski tidak persis sama artinya, peribahasa diatas saya rasa cocok untuk menggambarkan perilaku sebagian pemilih kita yang masih terbeli loyalitasnya ke “serangan fajar”. Jadi pendampingan, advokasi, bantuan dan perhatian yang sudah bertahun-tahun diberikan oleh caleg ato partai, terhapus oleh sekali “serangan fajar”.

Kesadaran dan perilaku masyarakat seperti ini tampaknya belum berhasil dihapuskan, bahkan cenderung menguat dan membesar, seiring inflasi

Pendidikan politik oleh negara dan partai politik berarti belum dalam menyentuh masyarakat pemilih. Tantangan besar bagi Presiden mendatang dan partai-partai politik yang eksis paska Pemilu 2014.

Jangan sampai, masyarakat cuma dijadikan objek. Merasa senang sehari mendapat “serangan fajar”, tapi menderita selama lima tahun. Mana mungkin mereka akan mengingat dukungan masyarakat, karena merasa kewajibannya ke pemilih sudah selesai dengan beli putus melalui “serangan fajar”. Selanjutnya mereka bekerja untuk mengembalikan modal, plus keuntungan.

Kalo ini terus terjadi, itu namanya “nikmat membawa sengsara”. “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”, karena uang tidak seberapa, menderita bertahun-tahun..

Wallahu’alam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *